Koperasi Konflik

Oleh: Iskandar Zulkarnaen
Kabid Pemasaran Kopma Unhas TB. 2016

Salah satu prinsip koperasi yang tidak bisa dikesampingkan adalah kekeluargaan. Asas kekeluargaan mengandung makna adanya kesadaran dari hati nurani setiap anggota koperasi untuk mengerjakan segala sesuatu dalam koperasi yang berguna untuk semua anggota dan dari semua anggota koperasi tersebut. Jadi, bukan untuk diri sendiri maupun beberapa anggota saja dan juga bukan dari satu anggota melainkan mencakup semuanya. Dengan asas yang bersifat seperti ini maka semua anggota akan mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Tapi di Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas), sangat tidak jelas prinsip ini. Anggota lebih kebanyakan menuntut hak, tanpa tahu apakah dia sudah menunaikan kewajibannya. Contohnya saja kewajiban yang paling kecil seperti simpanan wajib. Sangat sulit rasanya bagi pengurus untuk meminta simpanan wajib kepada anggota. Sering ada pertanyaan yang muncul di benak kader yaitu ‘Untuk apa saya membayar simpanan wajib?’ dan ‘Apa timbal balik dari membayar simpanan wajib tersebut?’ Jika si kader mengikuti Diksar dengan baik pastilah dia tahu apa kegunaan dari membayar simpanan wajib. Simpanan wajib jika bisa dioptimlkan maka sebenarnya sudah bisa mendanai berbagai kegiatan Kopma Unhas.

Contoh konkrit permasalahan kewajiban ini misalnya dalam masalah anggaran WiFi. Setiap bulan dalam RAPBK memang telah dianggarkan untuk dana pengadaan WiFi di sekretariat. Sebagian dibayarkan oleh pengurus, sebagiannya lagi talangan pemakai WiFi. Akan tetapi kenyataannya, hampir setiap bulan WiFi dibayarkan ‘keseluruhan’ oleh pengurus. Dimana peran anggotanya? Dibandingkan mengeluarkan empat ratus ribu per bulan hanya untuk WiFi saja, lebih baik dialihkan ke kegiatan accidentil tapi besar manfaatnya seperti Kopma English Community (KONCO), Kopma Kajian Jumat, pelatihan dan biaya rutin lainnya. Kegiatan yang disebutkan tadi jelas lebih kelihatan ma’rifatnya dibanding pengadaan WiFi yang tidak jelas bagaimana alurnya.

Bisa dimaklumi, mungkin anggota tidak mau tahu dinamika apa saja yang sedang terjadi di kepengurusan. Wajar saja. Akan tetapi ada suatu hal juga yang anggota tidak perlu terlalu banyak tahu. Pengurus juga tidak bisa membuat semua orang senang. Tapi akan dipastikan keputusan yang diambil insya Allah sudah tepat dan tidak gegabah serta telah melalui banyak pertimbangan. Belakangan ini memang pengurus lebih dipusingkan konflik internal dibanding mengurus program kerja. Melibatkan anggota dalam pengambian keputusan itu penting, tapi ada juga anggota yang terlalu ‘eksis’ sehingga sering memaksakan pendapat dan cenderung menyalahkan pengurus dan kerjanya cari kesalahan terus. Terlalu banyak mendengar kata orang juga tidak bagus, itu akan mempengaruhi sudut pandang dan akhirnya mempengaruhi keputusan si pengambil kebijakan dan hilanglah kewibawaan si pengambil kebijakan.

Semoga momen triwulan ini bisa menjadi tolak balik kesadaran tiap pribadi di keluaraga besar Kopma Unhas. Semoga setelah triwulan, anggota tahu apa kewajibannya, pengurus juga tahu apa yang diinginkan oleh anggota sehingga dalam usia kepengurusan yang tidak lama lagi lebih banyak aksi daripada konflik.

(Belajar Nulis)

One thought on “Koperasi Konflik

  • Menarik.
    Dinamika Kepengurusan merupakan sebuah keniscayaan, begitupun Konflik. Namun hal tersebut bukan tuk disesalkan namun diselesaikan.

    Persoalan Simpanan Wajib sudah menjadi bagian penting dari tugas Divisi Keuangan. Begitupun persoalan kegiatan pengembangan dan pemberdayaan anggota seperti KONCO, KAMAT, dll telah menjadi tugas Litbang dan PA. Keduanya berhubungan namun jangan sampai saling membenturkan karena keduanya dapat saja berkorelasi menguatkan satu sama lain. Seperti dengan hadirnya kesadaran anggota membayar simpanan wajib karena merasa segala kebutuhannya sesuai asas Koperasi yang mewujudkan Kesejahteraan anggota dapat benar-benar terwujud.

    Hal yang perlu dianalisis lebih lanjut oleh Penulis secara khusus dan secara umum oleh Pengurus yang saat ini sudah jauh lebih banyak dari kuantitas dan diharapkan berbanding positif dengan kualitasnya ialah kondisi Unit Usaha saat ini yang semakin menguatkan poin kedua bahwa “Prinsip Kekeluargaan di Kopma tidak jelas menurut penulis”
    Poin utama dari Kekeluargaan adalah Kebermanfaatan bersama dan tentunya mengedepankan musyawarah mufakat dalam berbagai keputusan yang tujuan akhirnya kembali kepada kebermanfaatan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *